ASAH, ASIH, ASUH

Your awesome Tagline

0 notes

Situs Gunung /Pasir Reungit-Cadas Nangtung Pasanggrahan

Gunung (Pasir Reungit) Cadas Nangtung Pasanggrahan adalah ‘Datum Point’ Kabuyutan (Ceremonial Center):

Gerbang (Madyapada) Yang Berlaku Dalam Unsur Keyakinan Keagamaan Masyarakat Tatar Sunda

Tatanan mengelilingi dengan pusat (puseur) di Gunung/Pasir Reungit adalah sesuai konsep Sang Sewasogata, dimana Gunung/Pasir Reungit merupakan Pancatantramantra (lima unsur halus), secara gaib terdiri dari tujuh susun berupa kesirnaan/lenyap, tujuh susun bersuasana sunyi/hampa. Sedangkan di bagian selatan terletak Situs Batu Pangcalikan, simbol sakala (alam dunia) “Bhuhloka/Madyapada”(dunia tempat manusia).



Dikemukakan Dr.Undang Ahmad Darsa (Filolog-Universitas Pajajaran) bahwa secara horizontal tatanan Gunung/ Pasir Reungit dan situs-situs yang mengilinginya pada arah delapan mata angin merupakan pancer sebagai tonggak dangiang layaknya sarang lebah di dunia nyata “jagat leutik/buana leutik”; secara vertikal melambangkan jagat gede/jagat ageung-alam semesta (Kropak 422 dan teks Sang Hyang Hayu), tata ruang jagat (kosmos) terbagi menjadi tiga susunan:

susunan dunia bawah-saptapatala ‘tujuh neraka’
Bumi tempat kita saat ini yang disebut madyapada; dan
susunan dunia atas, saptabuana atau buanapitu ‘tujuh sorga’.

Tempat di antara saptapatala dengan saptabuana ini disebut madyapada, yakni pratiwi ‘dunia tempat manusia’. Konsep tataruang (Kosmologis) masyarakat Sunda yang bersifat triumvirate ‘tiga serangkai, tritunggal’.

Dalam tatanan inilah Masyarakat Sunda mencari makna dunia menurut eksistensinya, menyangkut keluasan lingkupnya yang mengandung segala macam dunia dengan seluruh bagian dan aspeknya sehingga tidak ada sesuatupun yang dikecualikan. Artinya masyarakat Sunda memiliki pandangan tentang kesejajaran makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia. Di sini Gunung/Pasir Reungit atau Cadas Nangtung Pasanggrahan ataupun Selareuma merupakan Madyapada yang menjadi jembatan (Sunda: rawayan) batas antara alam pratiwi ‘dunia manusia’ menuju ke Swahloka atau buana nyungcung.



Karena itu Selareuma bukan semata mengacu ucapan asal-asalan dan semen-mena, melainkan konsep dasar kosmologi Sunda. Istilah selareuma secara morfologi terdiri dua kata, sela dan reuma. Kata sela dalam bahasa Sunda artinya ‘celah atau jarak antara dua benda terpisah’, homofon dengan kata séla yang artinya ‘batu’. Kata reuma adalah varian bentuk dari istilah huma artinya ‘lahan perladangan/ perkebunan’, homofon dengan kata réma artinya ‘jari-jemari atau ujung rambut’ (Satjadibrata: KBS, 1954; Panitia Kamus LBSS: KBS, 1990; Danabrata: KBS, 2006). Demikian istilah sela dikenal di dalam bahasa Jawa berarti ‘sela, bersela, lapang, senggang’, sedangkan kata séla artinya ‘batu, kemenyan, intan, pelana, sela, ringka, ringga (gajah)’ (Prawiroatmojo, BJI. 1981). Dalam bahasa Jawa Kuno, sela dapat diartikan ‘selang, celah, antara; sedangkan séla adalah ‘batu’ (Mardiwarsito, KJKI. 1978; Zoetmulder, OJED. 1982).

Filolog Undang Ahmad Darsa menegaskan bahwa baik bahasa Jawa kini maupun bahasa Jawa Kuno tidak ditemukan kata réma juga reuma ataupun huma. Namun secara morfologi ditemukan dalam bahasa Sunda, kata Selareuma artinya ‘celah atau jarak diantara lahan perladangan atau perkebunan’; sélareuma ‘batu atau bebatuan di perladangan/ perkebunan’. Selaréma juga merujuk arti ‘celah atau jarak antara jari-jemari atau ujung rambut’; sélaréma artinya‘ batu atau bebatuan bercelah seperti jari-jemari/ujung rambut’. Istilah selareuma, selaréma, juga selahuma adalah bentukan kata asli dalam bahasa Sunda. Selareuma atau sélareuma identik dengan selahuma mengandung pengertian tempat ladang bebatuan yang tegak berderet bagaikan jari-jemari; istilah pasanggrahan secara morfologis terdiri atas kata dasar sanggrah artinya ‘menyimpan sementara (barang atau orang) sementara waktu’ mendapat gabungan awalan pa- dan akhiran –an yang berfungsi membentuk kata tempat atau lokasi. Jadi pasanggarahan artinya ‘tempat atau rumah peristirahatan sementara untuk bermalam para pejabat atau tamu penting’

Filed under Sarareuma Cadas Gantung Situs Sumedang

2 notes

Hanjuang Midang salian wadah keur numbu galur-meungkeut Seuweu/siwi Sumedang, mangrupakeun FORUM KOMUNIKASI PADULI BUDAYA KASUMEDANGAN.

Kanggo para kadang wargi Hanjuang Midang ulah isin pami posting di ieu Group margi ti ieu Group teu aya Cacah teu aya menak..janten saJAJAR sadayana,PAda DJAya DJAya saampaRAN (PADJAJARAN).

-NYALUK DULUR SAGALUR, LAWUNG KA AHUNG, SABALE GANDRUNG-

Ayeuna geus waktuna salaku Urang Sumedang Anyak,geura hudang tur midang,lain jaman-lain wayah cicing dina sagara teu eling,nyumput buni dinu caang haranghang bari luut leet ku kesang kasangsaraan Ra-hayat..

Ulah meungpeukan beungeut ku saweuy,lamun geus ngarasa sawawa jeung geus nincak wiwaha,urang kudu geura tandang tur makalangan sangkan komara ngadangiang nyaangan alam pawenangan di bhuana panca tengah…

Keur misahkeun hideung jeung bodas,bener jeung salah,hade jeung goreng.
sangkan Ra-hayat ngarasa miboga jeung dipiboga,mika asih jeung dipika asih….

SUMEDANG TANDANG
lain rek TANDING,
SUMEDANG NANGTUNG
lain rek TARUNG,
tapi TANDANG arek MIDANG,
ngarawat,ngarumat,titingal
anu linuhung
hung a hung…

"HANJUANG MIDANG"

TANDANG NYANGGA BUDAYA
(Simpay Kawargian numbu galur-meungkeut seuweu/siwi).
Cag Rampes ……

mangga dihaturanan gabung ka grup FBna :

 http://www.facebook.com/groups/248497875175868/

0 notes

Lukisan Eyang Mbah Jaya Perkasa

Satu hal menarik dari Sumedang adalah tokoh bernama Embah Jayaperkosa, yang merupakan seorang patih dari Prabu Geusan Ulun. Beliau adalah tokoh yang cukup penting dalam masa peralihan kekuasaan Kerajaan Sunda-Padjadjaran ke Kerajaan Sumedanglarang, selain juga sebagai salah satu dari keempat kandaga lante yang mendukung sepenuhnya kekuasaan Prabu Geusan Ulun. Sebagai panglima perang, beliau berjasa sekali dalam menghadapi konflik Kerajaan Sumedanglarang dan Kesultanan Cirebon. Dalam riwayat, beliau ngahiang (menjadi dewa) dan makamnya terdapat di puncak Gunung Rengganis, yang banyak didatangi oleh para peziarah, bahkan di antara peziarah banyak yang menginap di makam beliau.

Kunjungi makam Embah Jayaperkosa yang terdapat di sebelah selatan Desa Dayeuh Luhur dengan berjalan kaki melewati perkampungan warga dan melalui jalan menanjak berteras yang terbuat dari semen.  Makamnya yang terletak di puncak sebuah bukit dapat dicapai melalui pintu gerbang yang dilengkapi dengan saung. Makam tersebut dikelilingi dengan pagar kawat dengan pintu terdapat di sisi utara. Makam berupa batu tegak setinggi sekitar 180 cm yang dibungkus kain putih dan bagian bawah berupa bangunan segi empat dari semen dengan permukaan dilapisi keramik putih. Pada bagian luar makam terdapat bangunan yang difungsikan sebagai tempat ibadah dan menginap para peziarah. Lingkungan sekeliling makam dipenuhi pohon bambu yang cukup lebat yang menjadikan tempat ini semakin sejuk dan tenang. Bila Anda berdiri di tempat ini, Anda akan dapat melihat panorama berupa bentang alam dan daerah-daeah pemukiman di bawahnya, terutama di bagian utara dan timur gunung.

Makam Embah Jayaperkosa bukan merupakan tempat pemakamannya, tetapi sebagai tempat ngahyang-nya tokoh tersebut. Selain itu, tempat didirikannya menhir tersebut konon merupakan tempat jatuhnya sinar gaib berwarna kekuningan pada waktu Prabu Tajimalela, pendiri kerajaan Tembong Agung yang berpusat di Leuwi Hideung,  sedang menguji kesaktiannya berupa ilmu kasumedangan. Kerajaan tersebut adalah cikal bakal Kerajaan Sumedanglarang yang berdiri pada abad ke-14-15 M. Di makam ini pula terdapat larangan yang harus dipatuhi oleh para peziarah, yaitu larangan memakai pakaian bermotif batik.

Filed under eyang mbah jaya perkasa patih sumedang lukisan mbah jaya perkasa

0 notes

Aku hanyalah manusia biasa yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa.
Sehingga sudah sepantasnya aku malu dan merasa tidak bisa, ketika berhadapan dengan orang-orang.

Aku hanyalah manusia biasa yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa.

Sehingga sudah sepantasnya aku malu dan merasa tidak bisa, ketika berhadapan dengan orang-orang.